Apa misi yang Anda emban saat mengunjungi Aleppo pada Juni lalu?

Kami ditugasi di wilayah perang. Meski Damaskus relatif aman, sebagai kepala perwakilan, nyali saya tertantang untuk melihat sesama warga Indonesia yang masih terjebak di wilayah berbahaya. Kami tahu risikonya. Menurut standar prosedur operasi, duta besar yang keluar dari Damaskus harus dikawal aparat keamanan. Saya dikawal saat mengunjungi Latakia, Tartus, Homs, dan sebagainya. Tapi, tidak tahu kenapa, saat ke Aleppo tidak mendapat pengawalan. Saya cuma datang dengan dua anggota staf dan seorang pengemudi.

Tidak bawa senjata? He-he-he…. Tidak. Kami kan bukan tentara. Kami hanya beri tahu Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa saya ingin ke Aleppo. Tujuannya melihat kantor cabang konsuler di sana, yang memfasilitasi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sekitar Aleppo. Wilayah kerja kantor itu sampai ke Suriah belahan timur, termasuk Raqqa, yang menjadi ibu kota Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS. Kami mempekerjakan seorang anggota staf lokal di Aleppo. Dia pengacara yang bertugas memberi perlindungan TKI. Dia terus meminta uang sewa gedung, uang mengurus TKI, dan sebagainya. Saya keluarkan uang, jadi harus lihat buktinya. Hasilnya, saya mendapati kantor kita di sana masih buka sesuai dengan biaya yang kami bayarkan. Jadi saya ke Aleppo bukan untuk gagah-gagahan. Sepanjang perjalanan, lebih dari 250 kilometer, jantung saya berdebar-debar terus, karena melewati pasukan yang membawa mortir, tank, dan semua senjata berat lainnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *