Terselip di antara kemegahan Borobudur dan kisah cinta pahit Prambanan adalah sendratari Ramayana yang kolosal. Atas permintaan penonton, kini bisa lebih sering dinikmati. Bagian paling menarik? Prosesi gugurnya Kumbokarno, raksasa baik hati yang berpihak pada raja jahat. Ada yang kerap lupa ‘tercungkil’ ketika menggali dan menelusuri wisata dan budaya di Yogyakarta. Alias Jogja.

Biasanya kita takjub pada kebesaran Borobudur. Atau kisah cinta pahit yang melatarbelakangi Prambanan. Padahal di situ justru terselip kisah perjuangan cinta dalam bentuk sendratari. Namanya sendratari Ramayana. Balok-balok kisahnya diambil dari kisah legendaris Ramayana di India. Boleh saja. Tapi menurut para pemerhati, Ramayana yang kita saksikan di sini telah mengalami proses adaptasi yang panjangnya berabad-abad dengan peradaban Jawa. Ramayana adalah contoh paling baik dari suatu cerita Jawa yang ceritanya terpahat di Candi Siwa yang terletak di dalam kompleks Candi Prambanan.

Baca juga Catering Nasi Box Hampers korean

Sekarang, sendra tari ini telah disesuaikan juga untuk suatu seni pertunjukkan. Sejak 1960-an, banyak penari sudah menghidupkan suatu cerita relief kuno menjadi pertunjukkan di panggung terbuka candi Prambanan yang berlokasi di area barat komplek candi. Hakikatnya, suatu bentuk drama tradisional tanpa suatu dialog panjang, sendratari Ramayana merupakan acara yang bagus berisikan kepahlawanan, tragedi hingga roman untuk memuaskan penonton. Dengan jeda sepuluh menit di tengah pertunjukkan dua setengah jam itu, cerita Ramayana terbagi ke dalam beberapa babak. Dimulai dari introduksi cerita, Pasewakan Alengka, Hutan Dandaka, Rama Memburu Kijang, Penculikan Shinta, Gua Kiskenda, Taman Argasoka, Rama Tambak, Perang Brubuh hingga Pertemuan Rama & Shinta. Sendratari ini dimainkan oleh kurang lebih 50 penari profesional. Belum lagi para pemain musik tradisional. Ditata dengan kostum yang apik pula. Dahulu, sendratari ini digelar langsung di kompleks Candi Prambanan, sehingga kita bisa melihat para penari muncul dari sela-sela bangunan candi. Namun rupanya hal itu membawa dampak kudang bagus bagi kelestarian candi. Sehingga dibuatlah panggung terbuka khusus dengan latar belakang kompleks candi. Kemudian dibuat pula panggung Trimurti yang tertutup agar pertunjukkan tetap bisa dinikmati walau cuaca hujan, misalnya.

Dulu, sendratari ini hanya berlangsung saat bulan purnama, tapi kini atas permintaan penonton bisa dinikmati hingga lima belas kali dalam sebulan. Pesan yang tersisip: This is a must seen attaction. Do not miss it. Itulash mengapa ketika kita berada di sekitar panggung, kita bisa menemui penonton dari berbagai bangsa, usia dan profesi. Dan tentu anak-anak muda dengan sloga cintanya berteriak: Love will lead you back, Shinta!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *