Disarankan Dcc

sat-jakarta.com – Cerita Bhara Mariska (35) agak berbeda. Karyawati ini awalnya tertarik untuk melakukan persalinan lotus. “Namun setelah saya berkonsultasi pada dokter ternyata dokter tidak mendukung. Menurut dokter, lotus birth dapat meningkatkan risiko infeksi pada bayi, apalagi plasenta kan jaringan terbuka yang sa ngat rentan terkena infeksi.” Mariska pun mencari se cond opinion pada seorang bidan. Ternyata pendapat sang bidan senada dengan dokter. Intinya persalin an lotus dapat berisiko.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di Jakarta

Pada saat itulah, sang bidan memberikan informasi mengenai Delayed Cord Clamping (DCC). Tali pusat yang biasanya langsung dipotong begitu bayi dilahirkan, pada teknik DCC, tidak langsung dipotong. ”Setelah me ngetahui hal itu dan mendapat restu suami, de ngan mantap saya memi lih water birth dengan DCC.” Di hari H karena tidak berhasil menemukan rumah sakit dan klinik bersalin yang dapat memfasilitasi water birth, akhir nya Mariska memutuskan bersalin di rumah. “Sebe lumnya saya konsultasi de ngan bidan berpengalam an yang siap menolong persalinan di rumah.”

Sayang, cita-cita water birth tidak kesampaian. Karena sewaktu menyiapkan air mineral untuk kolam yang sudah disiapkan, si bayi keburu lahir padahal bidan belum tiba. “Jadi proses persalinan anakku, Mahadevi Sarasvati, hanya dibantu suami. Untung suamiku rajin baca dan sigap, sehingga walau belum pengalaman bisa diandalkan. Buktinya setelah si kecil lahir, dia langsung meletakkannya di dadaku, saat plasenta keluar langsung dibungkusnya.”

Baru, lanjutnya, setelah bidan tiba, si kecil dimandikan. Setelah 6 jam kemudian, tali pusat yang meng hubungkan plasenta dan bayi dipotong dengan cara dibakar oleh bidan. Plasenta yang telah dipisahkan dari bayi, lanjut Mariska, dibawa oleh bidan ke rumahnya untuk diproses menjadi kapsul dengan cara dimasak terlebih dahulu.

“Memang untuk hal satu ini belum familiar dan belum ada penelitian ilmiahnya. Tapi dari bukti yang saya rasakan sendiri, setelah mengonsumsi pil plasenta setiap hari, badan ini menjadi segar. Walau begadang karena mengurus si kecil, siang harinya saya tetap fit, tidak mengantuk, tidak lemas. Saya juga tidak menga lami anemia, seperti saat menyusui anak pertama. Bahkan HB saya normal, begitu juga dengan tekanan darah.”

Siap Antisipasi Risiko

Penundaan pemotongan tali pusat bayi (DCC) pun dilakukan drg. Vegi Eridani (34). “DCC ini sudah diakui dan di sarankan oleh WHO, jadi pada anak pertama saya melakukan DCC,” ujar Vegi. Sementara untuk anak kedua yang tengah dikandungnya, ia mantap memilih lotus birth. “Soal risiko, semua tindakan medis pasti ada risiko nya,” papar Vegi yang sekarang ini tengah menghitung hari untuk melakukan persalinan lotus birth.

Masih menurut Vegi, sebelum menjalakan lotus birth, setiap ibu perlu melakukan persiapan, termasuk persiapan mental, siap akan risiko, dan siap mencegah supaya risiko tidak terjadi. Ibu juga perlu tahu apa yang harus diperbuat bilamana hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *