Ketersediaan lahan produksi pangan yang makin menipis, sedangkan tuntutan kebutuhan pangan makin meninggi. Pemerintah pun berupaya mencanangkan swasem bada pangan dalam tiga tahun melalui upaya khusus (upsus) swasembada padi, jagung, dan kedelai (pajale). Kondisi ini mengharuskan seluruh pemangku kepentingan berpikir kreatif dan inovatif untuk menghasilkan pangan berkelanjutan, khususnya padi sebagai pangan pokok bangsa. Pada Pekan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) ke-II di Jatisari, Karawang, Jabar, 23-29 Mei 2016, berbagai pihak menampilkan inovasi budidaya padi dengan produktivitas tinggi, seperti padi hazton dan padi salibu. Seperti apa bentuknya?

Padi Hazton

Menurut Anton Kammaruddin, Kepa la Seksi Tanaman Buah-buahan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kalbar, padi hazton berangkat dari kegalauan produktivitas padi di Kalbar yang rendah, hanya 3 ton/ha. Jauh di bawah produktivitas nasional yang mencapai 5 ton/ha. “Banyak gulma dan hama keong mas.

Kunjungi : kota-bunga.net

Tanahnya marginal sehingga padi beranak saja susah. Kami punya ide hazton biar padi nggak perlu beranak, ditanam sekali sudah cukup. Kita berupaya membuat padi dalam satu rumpun itu indukan semua,” beber Anton. Metode hazton, ulasnya, adalah cara bertanam padi menggunakan bibit padat, sekitar 20-30 bibit per lubang tanam dan umur bibit relatif tua, berkisar 25-35 hari setelah tanam (HST). Sementara, umur panen padi lebih awal 15 hari dibandingkan budidaya konvensional. Sebelum disemai, imbuh Anton, seleksi benih berkualitas dengan cara merendam benih padi dalam larutan garam 3%. “Cari benih yang tenggelam. Rendam benih selama 24 jam, lalu peram 24 jam. Benih siap disemai. Ini untuk mengantisipasi OPT fungi (cendawan),” ujarnya. Benih 100-110 kg untuk lahan semai seluas 0,1 ha. Waktu semai selama 35 hari. Selanjutnya, 20 bibit harus dicabut sekaligus dan diikutkan tanahnya untuk menghindari stres. “Kalau bibit dicabut satu per satu, di tengahnya ada pembusukan karena mengalami stagnasi, di dalam tanaman tidak bisa berkembang,” ungkap Anton. Bibit padi kemudian ditanam dengan sistem jajar legowo 4:1 atau 2:1 untuk mengurangi kelembapan. Pemupukan dilakukan sesuai anjuran pada umumnya.

Karena padi hazton sangat rimbun, peluang serangan OPT sangat tinggi sehingga perlu pengamatan rutin. “Bila serangan sudah melampaui batas, lakukan pengendalian,” sarannya. Anton mewanti-wanti empat titik kritis yang harus diperhatikan dalam budidaya padi hazton. Pertama, jenis padi harus sesuai kondisi lahan dan benihnya bersertifikat. Kedua, persemaiannya harus jarang dan dirawat. Ketiga, cabut benih secara bergerombol dengan tanahnya dan tidak perlu dibersihkan agar tidak stres. Terakhir, tanam bibit sebanyak 20-30 batang per titik tanam. Franciscus Sains, Kepala Unit Protek si Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kalbar menambahkan, keung gulan metode budidaya hazton ada lah produksinya meningkat. “Ada beberapa tempat yang gabah kering panennya mencapai 16 ton/ha,” katanya. Selain itu, mudah dalam penanaman, padi cepat beradaptasi dan tidak stres, tidak perlu penyulaman dan penyiangan, umur panen lebih cepat, mutu gabah tinggi dan bernas karena yang ditanam berupa tanaman induk, serta rendemen beras kepala juga tinggi. “Karena rimbun, gulma itu tidak tumbuh maka tidak ada penyiangan. Dan tanaman masaknya serentak, maka tidak ada bulir patah saat penggilingan,” tandasnya. Saat ini padi hazton telah dikembangkan di 24 provinsi seluas 49 ribu ha.

Padi Salibu

Teknologi padi salibu atau ratoon dimodifikasi, menurut Erdiman, peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumbar, memanfaatkan batang bawah padi setelah dipanen sebagai penghasil tunas atau anakan yang akan dipelihara. “Tunas ini berfungsi sebagai pengganti bibit pada sistem tanam pindah,” ujarnya. Panen padi salibu tidak terhingga sepanjang kondisi untuk salibu bisa dihadirkan. “Yang sudah kita coba di Sumbar, tanam sekali kita sudah panen 6 kali dalam 22 bulan. Lima kali panen musim kedua sampai musim keenam tanpa benih, tanpa olah tanah, tanpa tanam ulang. Cukup memanfaatkan tunas yang ada di bonggolnya,” terang Erdiman seraya memaparkan uji coba tiga musim dalam setahun menghasilkan 26 ton/ha. Dia menjelaskan, teknologi salibu memiliki banyak keunggulan, seperti hemat benih, hemat air, hemat biaya produksi dan tenaga kerja, ramah lingkungan serta meningkatkan hasil panen. “Biaya benih, upah tanam tidak ada lagi karena itu hemat biaya produksi sampai 60%-65%. Sedangkan kenaikan produksi mencapai 20%-25% dari tanaman induk,” ulasnya bangga. Erdiman memaparkan cara budidaya padi salibu. Padi salibu sebaiknya ditanam dengan sistem legowo.

Panen dilakukan 7-10 hari lebih awal daripada budidaya padi pada umumnya untuk menjaga kesegaran batang bawah. Tujuannya, agar tunas tumbuh dengan baik. “Setelah panen lakukan pembersihan gulma atau semprot herbisida kontak secara spot. Ini bertujuan menahan pertumbuhan gulma di awal pertumbuhan tunas,” urainya. Setelah panen, biarkan tanah dalam keadaan lembap. “Potong ulang batang sisa panen pada 7-10 HST setinggi 3-5 cm dari muka tanah. Seminggu kemudian tunas akan keluar hingga setinggi 5-7 cm baru diairi,” ujarnya. Pemupukan dilakukan pada umur 15- 20 hari setelah pemotongan diikuti penyiangan. Teknologi salibu sudah diaplikasi di Sumbar, Sumsel, Kaltara, Sulut, Jatim, dan Jateng. Tertarik mencoba?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *