Kreasi soto yang berbeda juga bisa Anda temukan di Kedai Soto Meruyungan. Soto bakar jadi andalan di kedai milik Bpk. Rudy ini. Jenis kuahnya tergolong soto betawi yang rempahnya kuat berwarna kemerahan. Kalau kita cicipi kuahnya, terasa pengaruh rempah masakan arab seperti jintan dan kapulaga.

Baca Juga: Mencicipi Soto Daging Sapi

“Bumbunya mirip kebuli karena kami juga menjual nasi goreng kebuli yang banyak sekali penggemarnya,” tutur pria keturunan Timur Tengah yang berasal dari Medan ini. Jadi sebelum dibakar di atas arang, daging diungkep di dalam bumbu kebuli.

Tak heran kalau dari jauh pun, aroma kebuli segera membahana menyertai aroma asap bakaran daging. Daging bakar langsung dicampur bersama kuah soto.

Saat bersatu dalam mangkuk, hasil pembakaran daging berempah ini mempengaruhi kuah soto jadi lebih harum. Sebagai pelengkap, Rudi menyediakan sepiring kecil emping nan renyah.

“Bumbu rempah pada daging bakar ini membuat kuah soto betawi semakin wangi,” jelasnya. Soto bakar merupakan menu yang ia temukan tanpa sengaja. Suatu hari ia menyantap sate daging sapi yang dihidangkan bersama soto tangkar.

“Wah, paduan keduanya enak sekali,” kenang Rudi. Pengalaman itulah yang ia gunakan sebagai modal untuk mewujudkan kedai soto betawi yang selalu ramai ini.

Selain soto bakar, Rudy juga menawarkan soto goreng. Harganya sama dengan soto bakar, sama-sama dibanderol Rp 25 ribu per porsi. Sebelum disajikan, daging soto digoreng sebentar di dalam minyak samin.

Lalu disajikan sama seperti soto bakar, yaitu bersama kuah dalam mangkuk. Rasanya luar biasa lezat, empuk, gurih, sekaligus harum.

SOTO DALAM MANGKUK GERABAH

Upaya lain untuk menampilkan soto dalam bentuk berbeda adalah lewat cara penyajian. Soto tidak disuguhkan di dalam mangkuk seperti yang dilakukan banyak penjual soto, tetapi di dalam gerabah. Untuk menguatkan perbedaan itu, sotonya pun kemudian diberi nama soto gerabah.

Kedai soto asal Solo, Jawa Tengah yang menjual soto gerabah ini, menggunakan piring, mangkuk, alas mangkuk, gelas, teko, hingga kendi yang terbuat dari tanah liat atau gerabah. Menyantapnya pun dengan sendok dari batok kelapa. Semua piranti ini didatangkan dari Solo karena ingin mengangkat soto dalam sosok baru dengan sentuhan tradisional Jawa yang kental.

“Sebelum keramik lebih dikenal, nenek moyang kita menggunakan gerabah sehingga patut dilestarikan,” jelas Etik. Dengan mengusung konsep serba gerabah, kedai soto ini berhasil melesat hingga ke luar Solo.

Cabangnya tersebar di beberapa kota, seperti Yogyakarta, Malang, hingga Tangerang. Di Tangerang, kedai Soto Gerabah dikelola Ibu Kristiani. Ia menawarkan dua macam varian soto yaitu soto ayam dan soto daging sapi. Penyajiannya khas soto ala Solo

Nasi tidak disajikan terpisah, tetapi langsung di dalam soto berkuah bening yang ringan. Isi sotonya seperti soto ayam lainnya berupa taburan kol, suwiran ayam kampung, soun, taoge, seledri, dan bawang goreng. Kuah soto diambil dari kaldu ayam kampung yang gurih.

Sedangkan soto daging hampir mirip soto ayam. Bedanya, soto daging menambahkan irisan tomat dan ayamnya diganti irisan daging sapi. Kuah sotonya terbuat dari kaldu sapi yang gurih sekali.

Harganya pun relatif terjangkau. Soto ayam dipatok Rp 13 ribu, dan soto daging dibanderol Rp 17 ribu. Nah, tertarik membuka usaha soto? Kreativitas mereka bisa jadi inspirasi. Baik cara olah, cara saji, hingga piranti saji pun bisa digunakan sebagai daya tarik untuk memikat pembeli. Selamat mencoba.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *