Memang banyak juga suami yang kurang mendukung mama melakukan me time-nya. “Iya, mantan suamiku dulu selalu menunjukkan wajah ‘agak enggak terlalu suka’ kalau saya ingin memenuhi waktu untuk kebutuhan pribadi. Seperti saat bertemu dengan sahabat buat sekadar melepas unekunek dan lelah, santai sebentar duduk minum kopi dengannya.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Biasanya kalau aku minta izin, dia selalu ngomong, ‘Kasihan anak-anaklah kalau kamu tinggal-tinggal begitu” (dulu waktu anak-anak masih kecil). Ujung-ujungnya, sih, selalu gagal memenuhi me timeku. Ya sudahlah, aku diam saja kalau dia sudah begitu,” kenang Mama Fika. Menurut Della, pada fi gur suami yang konvensional atau kaku (dalam menerapkan cara pandang terkait peran ibu sebagai pelayan keluarga), bisa jadi me time mama merupakan hal yang tidak masuk akal. Tak sedikit yang cenderung memberikan sindiran hingga mama tidak berdaya danmerasa bersalah ketika ingin memperjuangkan haknya untuk beristirahat.

“Saran saya, dalam kondisi ini, cobalah berbagi dalam suasana yang lebih relaks dengan suami. Ceritakan kisah sukses orang-orang terdekat dalam menjalankan me time mereka dan manfaatnya. Semakin dekat hubungan emosional antara suami dan fi gur contoh, maka semakin besar pula kemungkinan ia akan menjadikan pengalam an orang-orang terdekat tersebut sebagai re ferensi. Bila perlu, ajak suami bertemu dengan sosok ahli atau orang berpengalaman seperti ahli agama, ahli budaya, orangtua, dan lainnya, agar suami dapat melihat masalah ini secara utuh. Beri kesempatan ia berdiskusi atau bahkan berdebat, karena biasanya kritik dan larangan dimunculkan oleh suami akibat kekurangpahaman.”

Terlepas dari itu, Della melanjutkan, perempuan dengan kondisi hormonalnya memilik potensi untuk menjalankan hidup secara lebih berimbang daripada lelaki. Kreativitas kaum perempuan untuk berpikir rasional sekaligus dapat menyeimbangkan kondisi emosi membuatnya cepat menemukan “kenikmatan” di balik rasa lelah . Nah, inilah yang harus menjadi potensi yang diasah terus. Rasa cinta, jiwa humoris, dan sikap toleransi hendaknya dimanfaatkan untuk mengemas komunikasi yang kreatif pada orang-orang yang dinilainya “menekan”. Jadi Mama tetap dapat menjalan kan peran sebagai ibu, sebagai istri, namun tetap dapat bersantai memanjakan diri sendiri. Nah, selamat menikmati me time!

Sumber : https://pascal-edu.com/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *