SEBELUM tampil di putaran final Piala Uber di Kunshan, Cina, pekan lalu, tim putri Indonesia dirundung masalah. Salah satu pemain pilarnya, Nitya Krishinda Maheswari, batal tampil. Juara Asian Games 2014 ini tak bisa bergabung dengan tim lantaran dibekap cedera. Status kapten tim pun berpindah ke Greysia Polii, pasangan ganda Nitya.

Posisi Nitya diisi Tiara Rosalia Indah. Cedera adalah hal lumrah dalam dunia olahraga. Kelelahan biasanya menjadi penyebab utama. Itu pula yang dialami Nitya. Ia, bersama Greysia, harus berjibaku selama 2 jam 40 menit—hampir tiga kali waktu pertandingan normal—melawan pemain Jepang, Naoko Fukuman/Kurumi Yonao, di semifinal Kejuaraan Bulu Tangkis Asia pada akhir bulan lalu.

Lantaran terlalu diforsir, cedera lutut Nitya kambuh. Soal cedera pemain kini mendapat sorotan tajam dari Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Apalagi cedera itu umumnya diakibatkan oleh salah pembinaan pada usia dini di tingkat klub. Pola pelatihan yang tak seragam menjadi pemicu, selain standar pengetahuan para pelatih yang masih timpang dan perhatian klub yang minim.

”Masih ada beberapa atlet di pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang secara fisik tak memadai,” kata koordinator tim pelatih fisik pelatnas PP PBSI, Felix Ari Bayu Marta, Jumat dua pekan lalu. ”Akibatnya, begitu mereka masuk pelatnas, kami harus membenahi fisiknya lebih dulu.” Felix enggan menyebut siapa saja atlet itu dengan alasan etik.

Contoh kondisi fisik yang buruk terkait dengan daya tahan aerobik atau kemampuan dalam melakukan aktivitas secara terusmenerus tanpa lelah. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa baik kemampuan jantung dan paru-paru memompa oksigen dan darah ke jaringan otot. Kemampuan ini biasa diukur dengan nilai VO2 Max—jumlah maksimal oksigen yang bisa diserap dan digunakan tubuh selama satu menit.

Menurut Felix, ada beberapa atlet yang ketika pertama kali masuk pelatnas belum memenuhi standar minimal VO2 Max yang ditetapkan, yaitu 55-60 mililiter per kilogram berat badan per menit. Felix menduga penyebab utamanya adalah program latihan yang kurang tepat ketika mereka masih berada di klub. Padahal justru pada saat itulah mereka berada di usia pembentukan optimal, yakni 9-18 tahun. Dalam sistem pembinaan bulu tangkis di

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *