Segregasi Bag2

Dengan kata lain: cemas memasuki sejarah. Apalagi bagi sementara kalangan Islam, terutama di Timur Tengah, sejarah mereka diinterupsi imperialisme yang datang dari Eropa. Interupsi itu tidak hanya menandai kekalahan penguasa-penguasa lokal dan menyisakan sakit hati, tapi juga membawa hal-hal yang ”tak murni”—meskipun sebelum itu pun tak pernah jelas apa sebenarnya yang ”murni” itu, kecuali dalam hasrat dan angan-angan.

Tapi dengan hasrat dan angan-angan itulah mereka melihat dunia. Dengan kecurigaan yang akut, mereka mengharamkan banyak hal sebagai ancaman—termasuk topi Santa dan trompet kertas. Mereka melihat perbedaan semata-mata sebagai antagonisme. Tiap titik singgung, tiap pertemuan, antara ”kami” dan ”mereka”, harus ditampik. Di Malaysia, ”Allah” hanya boleh dipakai orang Islam, meskipun di Timur Tengah kata itu disebut dalam doa Nasrani. Tentu saja akhirnya akan sia-sia. Teknologi, modal, media, ilmu, musik (terutama musik pop), makanan, pakaian, dan entah apa lagi menghambur dari mana-mana.

Selalu ada anasir ”mereka” yang jadi ”kami”, dan ”kami” tak berhenti sebagai seutuhnya ”kami”. Edward Said dalam Culture and Imperialism menunjukkan: di zaman ini, tak ada seorang pun yang semata-mata satu, murni, dan utuh. No one today is purely one thing. Tapi memang tak mudah lepas dari obsesi kemurnian. Sejarah adalah perjumpaan, saling banding, saling saing peradaban. Ada yang kalah, ada yang menang. Perbedaan memang bukan semata-mata antagonisme, tapi juga bukan semata-mata harmoni. Perbedaan ”hitam” dan ”putih” di Amerika, misalnya, menunjukkan juga penindasan, paralel dengan perbedaan kaya dan miskin, dengan akhir yang kalah tak akan diacuhkan.

Kata-kata Ralph Ellison dalam novel Invisible Man tentang keterpojokan orang hitam di Amerika: ”I am invisible, understand, simply because people refuse to see me.” Dari sinilah yang disebut ”politik identitas” berkembang: perjuangan bersama sehimpun manusia menolak untuk selamanya invisible, ”tak tampak”. Mereka menuntut diakui. Mereka membentuk satu identitas, mengibarkan satu bendera, dan bertarung dalam politics of recognition.

Perjuangan ini, juga oleh aktivis Islam, adil, sebagaimana gerakan feminisme ketika perempuan disepelekan. Tapi ”politik identitas” juga bisa terbawa ke dalam bangunan identitas yang tertutup, yang ingin tak tercampur. Dengan itu diabaikan kemungkinan bahwa dalam dirinya—katakanlah ”Islam”, ”hitam”, ”perempuan”—juga ada kon?ik, ketidaksetaraan, perubahan. Segregasi yang dibentuk hanya menyembunyikan yang terbelah di dalam. Pada gilirannya yang tertutup akan layu. Segregasi adalah permulaan bunuh diri.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *