UJUNG AMUK AMOKRANE

P ERLU untuk menghentikan amuk an Amokrane Sabet. Sete lah roboh diberondong ti mah panas, tubuh gempal at lima belas tembakan– — let pertarungan bebas itu masih menggeliat. Dor! Satu tembakan lagi membuat raga pria 46 tahun itu diam di tempat. ”Sangat brutal,” ujar Nyoman Sania, warga Banjar Tegal Gundul, Desa Adat Canggu, Kuta Utara, Bali, yang menyaksikan ”duel” itu, Senin siang pekan lalu. Warga negara Prancis itu tewas sekitar 20 meter di depan vilanya di Jalan Pantai Berawa, Kuta Utara. Setelah Amokrane tak bergerak, Sania bersama saksi lain menolong Brigadir Anak Agung Putu Sudiarta yang bersimbah darah. ”Pak polisinya sempoyongan,” kata pria 59 tahun itu. Menjadi korban amukan Amokrane, Sudiarta mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit BaliMed, Denpasar. Sudiarta, anggota Kepolisian Sektor Kuta Utara, terjatuh ke dalam got ketika menghindari kejaran Amokrane. Petarung mixed martial arts itu delapan kali menghunjamkan badik ke leher Sudiarta. Polisi lain dari Brigade Mobil Kepolisian Daerah Bali sempat melepaskan tiga kali tembakan peringatan.

Namun Amokrane malah menantang polisi. Total ada 24 polisi yang mengepung Amokrane. Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Sugeng Priyanto mengatakan polisi hendak menjemput Amokrane setelah menerima lebih dari 20 pengaduan tertulis. Di antaranya ada yang mengadukan Amokrane sering tak membayar ketika makan di kafe. Ia juga dilaporkan sering mengganggu pasangan suami-istri. ”Istrimu cantik, boleh saya pinjam?” ujar Sugeng menirukan ucapan Amokrane seperti tertulis dalam laporan. Polisi tiga kali melayangkan surat panggilan. Amokrane malah menyobeknya dan tak mau datang. Belakangan, polisi tahu izin tinggal pria dengan nama panggung Kiane itu kedaluwarsa sejak September tahun lalu. Karena itulah polisi menjemput Amokrane untuk diserahkan ke Imigrasi agar dideportasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *